Monday, August 7, 2017

Cerita Dewasa Malam Minggu

Aku mulai cerita ini dari jatuh cinta pada teman kampusku. Anak rantau yang di biayai orang tuanya untuk melanjutkan pendidikan di Jakarta. Namanya Alina. Namanya tak lebih cantik dari rupa aslinya. Tinggi tapi tidak melebihi tinggiku. Tubuhnya sexy. Tidak kurus tapi berlebihan jika dibilang gemuk. Cantik, makanya sepadan denganku yang tampan. Maaf. Satu hal lagi, mungkin jika melihat Alina pasti pikiran lelaki sudah berpikir yang tidak-tidak.


***

Lalu di lanjut dengan Alina yang mulai menyukai puisi-puisi basiku. Kemudian memintaku untuk menuliskan puisi tentangnya. 

“Sejak kapan kamu mulai iseng nulis puisi?”
“Gak tahu. Mengalir aja sih.”
“Biasanya sih kalo lelaki mulai puitis gini, tandanya habis patah hati.”
“Hahaha. Sok tahu.”

Dia memukul pundakku. Semakin jatuhlah aku dalam cinta yang kubuat-buat sendiri. 
Kemudian ada yang memberontak dalam celanaku. Betapa laptopku menjadi saksi berengseknya otak dan kelamin ini menginginkan Alina.

Hari-hari selanjutnya, kami banyak menghabiskan waktu bersama. Makan di kantin, kejar deadline tugas, dan yang lebih nekat mengantarnya pulang. Kali ini aku sedang naik motor, untungnya ada helm cadangan di bagasi motorku yang luas. Untuk pertama kalinya aku ingin berlama-lama di jalan. Tubuh Alina mendekat rapat namun tidak memeluk. Sesuatu empuk dan nyaman yang tak pernah aku rasakan sebelumnya.

***

Di pusat ibukota, dia mengajakku untuk mampir ke apartementnya. Lift berbunyi ketika kami sampai di lantai 16. Dari ujung lorong, aku melihat lelaki tidak begitu tampan namun rapih menunggu di depan pintu unit kamar yang menurutku itu milik Alina.

“Eh ini kenalin pacar aku.” 

Lelaki itu menjabat tanganku. Tatapan matanya menaruh curiga kepadaku.

“Sayang, ini teman kampus aku yang selalu bantuin tugas aku.”

Aku membalas jabat tangannya dengan senyum ramah munafik. Rasanya tidak enak berada disana lebih lama lagi. Jadi, setelah mengantar sampai depan pintu, aku izin pamit. Namun otakku masih memikirkan kalau Alina dan pacarnya pasti berbuat yang tidak-tidak.

***

Beberapa hari setelahnya, Alina mulai menjaga jarak denganku. Aku tidak tanya kenapa, aku menghargai privasi dan perasaan pacarnya. Itu pasti. Tapi, perasaan ini mulai tumbuh pelan-pelan. Jadi, kuputuskan untuk membuangnya jauh-jauh.

Dua minggu berlalu. Aku duduk di taman kampus, membuka laptop lalu mulai membuka surel, melihat-melihat semua surel yang berisi tugas dari dosen. Tanpa sadar, Alina sudah duduk di sampingku. Mukanya muram, kutebak hatinya penuh gelisah. Tak kulihat senyum di bibirnya.

Aku mendengarkan curahan hatinya. Hanya mendengarkan, sesekali menggenggam tangannya. Sedetik kemudian kepalanya bersandar di bahuku. 

Sore itu aku mengantarnya pulang, kali ini aku naik mobil. Dia masih saja menikmati patah hatinya. Katanya sudah seminggu putus. Aku hanya mendengarkan, agar dia jadi tenang dan mungkin bisa sejenak melupakan. Kemudian hujan turun, dan aku lupa bahwa ini malam minggu. Pantas jalanan macet. Jadi kuajak dia untuk makan di restoran cepat saji. Sedihnya mulai pudar, senyumnya mulai mengembang perlahan.

***

Kira-kira hampir larut. Dan lantai 16 cukup tinggi untuk menikmati pemandangan kota setelah hujan. Dingin masih mengitari tubuhku. Sekarang yang kuinginkan hanya dilumat peluknya Alina.

“Kamu mau minum apa?”
“Nggak usah repot-repot, Al. Sebentar lagi aku pulang kok.”
“Kamu buru-buru pulang sih? Bisa tinggal disini satu jam lagi?”
“Okay.”
“Lagipula, di luar masih hujan deras.”

Lalu dia duduk di sampingku, sambil menonton film…entahlah. Alina menyandarkan kepalanya di bahuku. Tanpa rasa bersalah, aku merangkulnya. Kupikir tadinya ia menolak dirangkul. Sesaat ia memutar tubuhnya, wajahnya berhadapan dengan wajahku. Aku mencium aroma susu dari bibirnya. Tak berapa lama, dia melumat bibirku penuh nafsu. Beberapa detik kemudian, kami sudah bertelanjang dada. 

Aku segera mengunci pintu untuk memastikan benar-benar tak ada yang mengganggu. Dari sofa ruang tamu, aku menggendongnya lalu menjatuhkannya dengan kasar di atas kasur. Beberapa menit kemudian, kami sudah benar-benar telanjang dengan tubuh penuh keringat. Tangannya melingkar di pinggangku.

Hujan mengguyur lagi. Kali ini lebih deras disertai kilatan petir.

Sambil menciumi lehernya, aku berbisik di telinganya. 

“Aku rasa aku akan tinggal sampai pagi.” 

Kemudian dia mendorongku, dan mulai menguasai permainan.

Monday, February 10, 2014

Setelah Perpisahan Kita

Hidupku tak lagi sama setelah satu tahun menjalin hubungan denganmu, lalu kamu memutuskannya begitu saja. Aku tak tahu mengapa. Aku berusaha mencari tahu apa kesalahanku, tapi kamu bilang kalau aku tidak berbuat salah. Bahkan orang ketiga pun sama sekali bukan penyebabnya. Entahlah, aku tidak ingin mengorek luka yang kaubuat makin dalam. Hari-hariku kembali seperti dulu, sebelum aku bertemu denganmu. Abu-abu.

Setiap malam, ingatanku selalu terbawa arus menuju masa lalu. Mengingat detail setiap waktu yang kulewati bersamamu, setiap gombalan yang kaubuat, setiap kata cinta yang kaubisikkan. Pikiranku sibuk memikirkanmu, memikirkan pola makanmu, memikirkan kesehatanmu, juga memikirkan sosok yang telah menggantikanku. Entahlah, setiap aku memikirkannya, dadaku terasa sesak, hatiku terasa sakit. Klimaksnya, air mataku seringkali tak terbendung.

Sudah satu tahun setelah kepergianmu, hari-hariku masih sama. Pagi-siang-malamku masih abu-abu. Tak ada yang berbeda disini, aku masih bernafas, semuanya masih normal. Sayangnya, apa yang terlihat oleh mata tidak sama dengan apa yang dirasakan oleh hati. Aku yang salah, masih bermain-main dengan masa lalu yang harusnya sudah kubuang jauh-jauh. Kenangan itu masih melekat pada sudut-sudut otak.

Memasuki tahun baru, aku berharap ada sesuatu yang baru, yang menyadarkanku dari masa lalu. Lagi, semuanya masih sama; tak ada yang baru. Padahal, aku sangat berharap ada seseorang yang memberi warna baru dilembaran hidupku, yang membuka penutup mataku, yang menyembuhkan lukaku, juga menyadarkanku. Aku masih berharap sampai saat ini.

Setelah perpisahan kita, aku berusaha mencari penggantimu. Namun tak ada lagi yang sama. Tak ada kamu, tak ada kita. Aku masih menjadi diriku dengan kenangan yang masih sangat lekat dihatiku. Lagi dan lagi, air mata ini tak terbendung. Aku jadi teringat ketika aku menangis disampingmu. Kala itu, jemarimu yang menghapus air mataku. Sekarang, aku yang menghapusnya sendiri. Kemana jemarimu saat aku membutuhkannya untuk menghapus air mataku?

Sungguh, aku ingin tersadar dari bayang-bayang masa lalu yang terlalu sering kukejar. Aku ingin melepaskan, tapi hati ini masih enggan. Kamu yang dulu kumiliki, tak lagi disini. Bahagia yang kita agung-agungkan dulu, kini hanya kenangan. Jika kita sudah dipuncak bahagia, mengapa kamu memilih perpisahan sebagai jalan?
Sekali lagi, aku masih sendiri dengan luka dan kenangan yang masih melekat. Terkadang, diam-diam aku mencari tahu tentangmu, mencari tahu siapa penggantiku yang beruntung karena memilikimu.

Aku masih berjuang melupakan sosokmu yang tak lagi terangkul pelukan. Padahal, ada banyak yang datang dan pergi. Ada yang hanya singgah, ada pula yang tinggal. Tapi, semuanya tak memberi warna baru. Tak ada yang begitu berarti. Semua hanya berotasi, berputar mengisi hati.

Aku masih berjuang melepaskanmu, mencoba menempatkan kenangan-kenangan kita ditempatnya tersendiri didalam hati, mencoba merelakan perpisahan. Dan sekarang aku mengerti, kita tak lagi bisa menyatu. Aku pun tidak ingin memaksanya. Segala sesuatu yang dipaksa akan berjalan tidak baik. Dan aku rela melepaskanmu, menerima perpisahan kita, melupakan kita, menghilangkan perasaan masih sayang ini.

Entah sudah berapa kali namamu kurangkul dalam doa, entah sudah berapa kali air mata ini tumpah, entah sudah berapa kali aku mencoba; tapi selalu gagal. Kuharap, kali ini aku berhasil, dan aku segera menemukan penggantimu.

Selamat pupus 1 tahun..
Maafkan aku yang tak mengunci bayangmu ketika beranjak pergi.
Jika kaurindukan kita yang dulu, aku pun begitu.

Monday, January 27, 2014

Mata Coklat Itu

Seharusnya aku tak melihat mata coklat itu. Seharusnya aku menghindarinya jauh-jauh. Sekarang, aku telah jatuh pada tatapannya. Mata coklat yang nampak nyala itu menghipnotisku, membuatku mematung saat mata hitamku beradu tatap. Mata coklat yang tegas itu berhasil membuatku tersipu, membuatku penasaran siapa pemiliknya. Mata coklat itu berhasil mengendalikan saraf penglihatanku, hingga mengunci arah mataku untuk terus beradu tatap dengan matanya.

Mata itu seperti sedang mencari lawan tatapnya. Sialnya, mataku terperangkap. Di bola mataku yang hitam, terlihat jelas arah pandangnya ke mata coklat itu. Seperti terkunci, arah pandangku terjebak disana, terjebak dikilatan matanya yang coklat bersinar. Tidak bisa kemana-mana. Kurasa, aku semakin jatuh kedalam mata coklat itu.

Sekarang, aku sudah tahu siapa pemilik mata coklat itu. Tinggi tak semana, hidung tak terlalu mancung, rambut coklat pirang yang jatuh secara ikal, dan mataku seperti melihat surga. Mata coklat itu masih menjadi topiknya. Ia telah membuatku jatuh cukup dalam sekarang.

Saat mata hitamku tak menemukannya dalam pandangan, ia akan berusaha menemukannya. Saat mata hitamku menemukannya dalam pandangan, ia akan berusaha menjaga pandangannya itu. Kurasa, mata coklat itu punya sejurus hipnotis sampai mata hitamku tak mau melepaskan pandangan. Dan mata hitamku menikmati saat-saat itu.

Kurasa, bukan mata hitamku saja yang melongo, pun hatiku. Saat bertemu si pemilik mata coklat itu, ada getaran aneh yang menerka hatiku. Aku tak hanya jatuh pada mata coklat itu, tapi juga kepada si pemilik mata coklat itu. 
Iya, kamu.

Dari pria bermata hitam
Yang jatuh cinta
pada mata coklat dan pemiliknya.

Bisa kaubalas surat ini?

Sunday, December 22, 2013

Sleep Texting & Sleep Walking

                                                 Sleep walking                               Sleep Texting
  
Ada yang pernah denger? Atau udah tahu tentang gangguan ini? Atau juga ada salah satu dari kalian pernah ngalamin hal diatas? Kalau ada, Congratulation!

Jadi, minggu ini gue mau nulis tentang judul diatas, abis bosen nulis cerita galau mulu, nyambung juga kagak ceritanya.

*Lanjut. Sleep Texting itu jadi semacem gangguan tidur sambil mengetik pesan disaat sedang tidur. Simpelnya gini, misalkan kamu lagi main hape atau gadget sambil tidur-tiduran. Gak sengaja kamu ketiduran dalam keadaan masih megang tuh hape, terus tanpa sadar tangan kamu ngetik sms yang gak tau dikirim kemana. Ngerti gak? Kalau gak ngerti, baca ulang 15489 kali.

Biasanya, Sleep Texting sering terjadi sama orang yang kecanduan smartphone kayak dijaman sekarang. Kenapa bisa menyerang orang yang kecanduan smartphone?


Karena otomatis kemana dan dimana-pun mereka pasti pake smartphone. Dirumah pake, dijalan juga pake, lagi ngantor pake, lagi ulangan make (khususnya buat nge-googling), lagi ngampus juga make, bahkan ada yang ke toilet pun bawa smartphone-nya entah mau ngapain yang pasti bukan buat Camera360-an sambil berak yah.

Nah, hal-hal kayak gitu yang bikin kita berpotensi ngalamin Sleep Texting.

Gue pribadi pernah ngalamin Sleep Texting dan itu pengalaman yang gak tau harus gue bilang buruk atau kocak. Jadi 2 tahun yang lalu gue pernah pacaran (sama cewek pastinya). Cewek gue itu nuntut tiap detik-menit-jam harus smsan/telponan sama dia. Karena gue sayang, waktu-waktu gue lebih dominan megang hape. Sampe akhirnya pas jalan 4 bulan, gue gak sengaja ketiduran padahal lagi smsan sama dia. Secara gak sadar gue ngetik sambil tidur. Paginya, gue diputusin. Lo tau kenapa?

Malemnya, gue ngetik sms ke pacar gue gini "Km jelek bgt sih, bulu idung km keluar jalur gitu, aku ilfil. Bdn km juga bau bawang, km kalo jalan sm aku jarang mandi yah? Mending aku cari pcr yg agak cakepan dari km deh kalo gini caranya."

Yes, gue emang hina.

Keesokannya, hape gue sepi. Akhirnya gue tidur tanpa ucapan 'good night'. Sebelum tidur, hape gue, taruh disebelah kepala berharap ketika gue bangun terus nge-cek hape ada ucapan 'good morning'. Gara-gara naruh hape disamping kepala, gue ngalamin Sleep Walking atau berjalan sambil tidur. Entah gue jalan-jalan keluar rumah atau kemana saat itu, yang gue inget bangun-bangun gue ada didalem kulkas. Untungnya, tiap malem colokan kulkasnya dicabut sama nyokap gue dengan alasan irit listrik es batu yang di Freezer mencair.

Dari pengalaman itu, banyak pelajaran yg gue dapet dan ini jadi tips buat lo yang kecanduan smartphone biar terhindar dari Sleep Texting dan Sleep Walking supaya kejadian yang gue alami dulu gak terjadi sama lo.

1. Coba kurangin waktu lo menggunakan smartphone. Kalau misalnya sekolah/kuliah/kerja lo bawa, maininnya pas jam istirahat aja. Itu pun kalau lo punya.

2. Kalau mau tidur, hape lo, lo jauhin dari tempat lo tidur. Misalnya lo tidur dikamar, smartphone lo taruh aja diruang tamu. Karena kalau naruhnya deket kepala, itukan bisa kena radiasi, bisa ngeganggu kinerja otak deh jadinya. Ini cuma buat yang punya otak.

3. Jangan pernah pacaran sama orang yang maunya tiap waktu harus komunikasi. Emang sih komunikasi itu hal penting dalam suatu hubungan, tapi harus tau waktu juga. Jangan sampe lagi berak pun lo masih telponan sama doi. Bahaya. Gak tenang.

4. Sebelum tidur, benda-benda elektronik seperti tv, kulkas dll itu dicabut aja colokannya. Selain bisa ngirit listrik, itu juga bisa menghindari kejadian kayak yang gue alami. Coba waktu itu kulkas masih dicolokin, mungkin paginya gue berbuih kayak Spongebob.


5. Baca doa sebelum tidur. #udahgituaja

Nah, jadi inilah yang bisa gue kasih tau. Kali aja bermanfaat, kan. So, jangan sampe diri kita dikuasai oleh gadget/smartphone. Oh iya satu lagi, jangan lupa solat yes.

Wassalam, wr, wb.

Friday, December 13, 2013

Jangan menunda sesuatu


Kali ini hujan turun sangat deras, dingin yang hadir membuat embun-embun kecil dikaca mobil. Pria itu sedari tadi hanya diam, seperti memikirkan sesuatu tapi pikirannya kosong, tatapannya sendu, matanya menahan air mata agar tidak jatuh.

Didalam mobil, ia hanya memandang kosong kedepan, melihat kaca yang mulai basah dan berembun tapi tidak benar-benar fokus terhadap kaca mobilnya. Satu hal yang terlintas dipikirannya adalah seorang wanita yang ia cintai. Iya, hanya itu. Tiba-tiba, seperti dihujani peluru, hati pria itu terasa sakit, napasnya mulai berat, tenggorokannya mengering. Lagi-lagi, matanya menahan air mata agar tidak jatuh. Seharusnya ia sadar bahwa ia mencintai wanita itu dan tidak boleh menunda untuk menyatakan perasaannya. 

Pria itu tidak bisa menyalahkan waktu, tidak bisa menyalahkan takdir, apalagi menyalahkan wanita itu yang menolaknya dan pergi dengan pria lain. 

Ingatannya kembali melemparkan pria itu saat ia menemui wanita yang dicintainya disebuah restoran. 

Si pria menghampiri si wanita dan menyatakan perasaannya dengan gemetar. Si wanita lalu menangis dan berkata bahwa ia sudah mencintai pria lain. Si pria terdiam, matanya berkaca-kaca ketika mendengar penjelasan si wanita. Hening.

Tak lama kemudian, si pria lain itu datang dan betanya mengapa si wanita menangis. Si wanita lalu memeluk erat si pria, kekasihnya. Si pria lalu pergi dan meninggalkan mereka berdua di restoran. Tak lama kemudian hujan turun. Pria itu menengadah keatas, melihat langit yang menangis.

Mematung sebentar lalu masuk ke dalam mobil.

Pria itu menyalahkan mobil dan menjalankannya tapi tidak tahu kemana tujuannya. Hujan masih deras, Matanya masih menahan air mata, napasnya pun masih terasa berat.

Tiba-tiba, pria itu melihat seorang gadis cilik yang menjual bunga. Pria itu membaca tulisan dikotak tempat untuk menaruh bunga, bertuliskan "jangan menunda sesuatu". Pria itu menghentikan mobilnya, lalu menghampiri gadis cilik itu dan membeli semua bunga yang sudah basah terkena hujan.

"Kenapa kamu menulis kata 'jangan menunda sesuatu' dikotak itu?" tanya si pria.
"Karena dengan tidak menunda, tidak akan ada rasa sesal. Terima kasih telah membeli bungaku." gadis itu tersenyum lalu meninggalkan si pria yang mematung memegang beberapa bunga sambil mencerna kata-kata si gadis tadi.

Pria itu masuk kembali ke dalam mobil. Kemejanya hanya basah dibagian bahu. Rambutnya berantakan. Didalam mobil, kata-kata gadis itu kembali terputar ditelinga sang pria.

Ya, hanya dengan tidak menunda kita tidak akan merasakan suatu penyesalan. Dan pria itu kini menyesal karena telah menunda cintanya. 

Ini tentang pria dengan penundaannya yang dibalas dengan penyesalan mendalam. Ya, jangan pernah menunda. Dengan begitu, penyesalan itu tidak akan datang.

Saturday, July 27, 2013

Untuk kamu yang sedang sakit

Saya menulis ini ketika dalam perjalanan tanpa tujuan; hanya untuk menenangkan pikiran dan perasaan. Saya tidak tahu harus dengan cara apalagi agar kamu mengerti. Beberapa waktu lalu, kita berhasil menuju titik temu perasaan masing-masing. Saya mencintaimu dan kamu pun begitu. Saya ingat, saya pernah bercerita tentang banyak hal. Kamu hanya mendengarkan, sesekali protes dengan alur yang saya ceritakan, sesekali kamu tersenyum. Menyebalkan, ketika jentikan tanganmu menyebabkan semangat yang memuncak sehingga hari-hari yang saya lewati terasa berbeda dan luar biasa. Ketika itu juga, saya merasa sangat nyaman seolah tak ada lagi manusia dibumi; selain kita.

Sifat manja kamu membuat saya merasa hangat tiap kali disampingmu. Rasanya, saya ingin mengelus-elus kepalamu dan menyandarkannya dibahuku, menggenggam erat jemarimu, atau sekadar mencium keningmu. Ada satu hal yang sangat saya inginkan. Berada disamping kamu saat bangun tidur sampai terlelap. Hanya saja keadaan dan jarak yang memaksa kita untuk merasakan hal itu semua lewat pesan singkat. Terlihat semu, tapi cukup nyata untuk dirasa.

Pelukmu hanya saya rasakan dilayar handphoneku yang mulai memanas. Kita berjauhan tapi terasa dekat, tersenyum karena membaca pesan tanpa ada yang tahu hati kita berdebar-debar. Saat bertemu, jantungku berdebar, nafasku tak beraturan, tanganku gemetar seperti tulang yang remuk tak bias lagi menopang. Semua itu sangat jelas diotakku dan memutar dengan betul kenangan. Manis.

Tapi, kamu sekarang mulai mengganggu pikiranku. Bukan karena hal diatas, tapi karena kamu sedang sakit. Kesehatan kamu menurun, pola makanmu tak teratur. Lagi, saya yang salah tak mengingatkan kamu untuk makan. Saya terlalu egois mementingkan diri sendiri, terlalu sibuk dengan dunia sendiri. Mengetahui itu, saya merasa khawatir tingkat dewa. Jujur, akhir-akhir ini tidurku kurang nyenyak, pola makanku jadi kurang teratur karena mengkhawatirkan kamu.

Kamu bilang, kamu tidak apa-apa. Nyatanya, kadang ada darah segar yang keluar dari hidungmu, kepalamu terasa sakit dan kamu hanya bisa menahan sakitnya. Lagi dan lagi, saya tidak disana atau sekadar membersihkan darahmu atau menyuapi makanan. Saya jadi teringat waktu kecil, saya punya teman perempuan yang tidak bisa saya sebutkan namanya. Dia mengalami sakit yang sama seperti kamu. Saat itu, kami sudah pulang sekolah, tiba-tiba ada darah keluar dari hidungnya. Saya tidak bisa apa-apa selain menyumbat pendarahannya dan menggendongnya pulang. Sampai dirumahnya, dia masih mengeluarkan darah dan memegangi kepalanya. Setelah itu, dia berhenti dan diam. Saya kehilangan dia.

Dari situlah saya selalu ingin menjaga kamu, ada disampingmu saat butuh maupun tidak. Karena saya tak ingin kehilangan orang yang saya sayangi dua kali. saya sangat mencintaimu meskipun kamu mengidap penyakit yang saya tidak tahu.

Untuk kamu yang sedang sakit, semoga lekas sembuh.

Saya bergetar mendoakanmu.

Friday, May 10, 2013

Kosong


       Semua mengalir begitu saja. Aku nyaman didekatmu, meski aku dan kamu berkomunikasi lewat tulisan.  Itu kita lakukan setiap hari, tanpa menatap wajah; hanya sekedar tulisan. Kita tertawa, tapi tak ada suara tawa, semua mengalir lewat tulisan. Perhatianmu membuat degup jantungku penasaran. Aku sangat ingin mendengar suaramu, melihat wajahmu, menatap matamu, bahkan aku sangat ingin menggenggam jemarimu. Apa itu mustahil?

       Tapi, entah mengapa kehadiranmu membawa perasaan lain. Aku takut menerjemahkannya kalau itu cinta. Ada sesuatu yang berbeda ketika aku dan kamu mulai menerjemahkan perkataan lewat ketikan. Aku merasa semangat, saat huruf-huruf yang kamu rangkai mulai mengisi direct message. Mungkin juga kamu merasakan hal yang sama. Setiap bangun pagi hingga malam, kamu selalu menyapaku. Setiap itu juga, ada banyak kamu yang memenuhi otakku; dengan membayangkan wajahmu disana.

       Sungguh, tadinya aku tidak ingin terlalu jauh melangkah, meskipun kita hanya bisa melihat rupa wajah dari avatar. Rasanya, ada yang hilang jika satu hari kita tidak berkomunikasi. Seperti dikontrol, aku terus melangkah, menjalani hubungan tanpa status, hubungan tanpa pertemuan. Karena aku takut, setiap pertemuan pasti berakhir dengan perpisahan. Aku terlalu nyaman, bahkan aku merasa kamu merasakan hal yang sama. Saat aku tidak menyapamu dipagi dan malam hari, kamu mulai mencari-cariku.

       Tiba-tiba, aku merasakan rasa yang tidak terkendalikan. Aku menaruh harapan dan berpikir bahwa kamu juga menaruh harapan Salahku yang mengartikan segala bentuk perhatianmu sebagai tanda cinta. Apa cinta juga bisa tumbuh meski itu melalui tulisan sekalipun? Aku menyadari dan menangkap isyarat yang kaulempar. Hanya saja, aku masih takut untuk bertemu denganmu dalam dunia nyata. Aku memendam perasaan itu.

       Semakin kesini, perasaan ini semakin sulit dikendalikan. Bahkan, aku lebih suka menghabiskan waktu didepan laptop, mencari-cari tahu tempat tinggalmu, sekolahmu, dan semua yang berhubungan dengan kamu. Apa aku salah diam-diam mencari informasi tentangmu? Itu kulakukan karena aku penasaran. Kita semakin dekat, kamu lebih sering menceritakan tentang hubunganmu. Sebenarnya, aku benci ketika kamu menceritakannya, hanya saja aku lebih suka mendengarkan dan itu kupelajari agar ketika aku menggantikan dia, aku tidak seperti dia yang memperlakukanmu dengan tidak spesial.

       Tapi, mengapa kali ini aku merasakan sesak ketika kamu bercerita bahwa kamu sudah punya penggantinya. Kamu bercerita dengan antusias, aku hanya mendengarkan dan melempar senyum meskipun itu lewat tulisan. Ketahuilah, senyumku tidak benar-benar senyum. Aku merasa sesak disini. Entahlah, kurasa aku mencintaimu.

       Aku memahami itu. Salahku yang lebih memilih memendam, bersembunyi dibalik sisi gelap dan membiarkan rasa sesak tak terobati. Harusnya, aku tak terlalu penasaran, terlalu mengikuti rasa keingintahuanku. Harusnya aku menemuimu sejak pertama kenal. Semua terlalu cepat, aku tak punya hak memintamu untuk tetap disini.

       Cinta yang kurasakan, hanya sekadar lewat tulisan-tulisan. Nyata dirasakan, tapi fiksi didunia nyata. Lagi, salahku yang diam meski tahu punya perasaan. Sekarang, aku kesepian, tak ada sapamu dipagi dan malamku.   

Kosong.

Membunuh Hati Yang Sudah Mati

Jatuh cinta kepada seseorang bisa membuatmu berubah. Itu bagus jika ia membuatmu jadi orang yang lebih baik. Bagaimana jika sebalikny...